China Pencetak Orang Kaya Di Masa Covid 19

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari setahun berhasil merepotkan dunia. Perdagangan internasional terganggu karena adanya kebijakan pembatasan yang diterapkan berbagai negara untuk memutus mata rantai penularan virus.

Meski ekonomi dunia dibuat lesu oleh pandemi, orang kaya dunia ternyata masih bisa melipatg gandakan kekayaannya.

Riset menunjukkan, sepanjang tahun lalu, jumlah miliuner dunia bertambah 412 orang atau hampir 15 persen menjadi 3.228 miliuner.

Dikutip dari Barrons, laporan tersebut diluncurkan oleh Hurun Report, lembaga riset, media dan investasi bisnis yang berbasis di China.

Dalam laporan itu, nilai akumulatif kekayaan semua miliuner dunia ditaksir mencapai USD 14,7 triliun atau Rp209.000 triliun. Bahkan lebih besar dari PDB China yaitu USD 12,2 triliun.
Jumlah harta miliuner dunia itu naik 32 persen atau USD 3,5 triliun setara hampir Rp50.000 triliun dari tahun sebelumnya.

“Dunia belum pernah melihat kekayaan sebanyak ini tercipta hanya dalam satu tahun, lebih dari yang mungkin bisa diharapkan untuk satu tahun yang sangat terganggu oleh Covid-19,” ujar Ketua Peneliti the Hurun Report, Rupert Hoogewerf.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun, tiga miliuner bahkan meraup penambahan kekayaan lebih dari USD 50 miliar setara Rp710 triliun.

Ketiganya adalah Elon Musk, yang kekayaannya bertambah USD 151 miliar, diikuti oleh Jeff Bezos yang kekayaannya bertambah USD 50 miliar, serta bos e-commerce China Pinduoduo, Colin Zheng Huang yang kekayaannya juga bertambah USD 50 miliar.

China Jadi Juara Pencetak Orang Kaya

China memimpin pertumbuhan jumlah miliuner tersebut. Lebih dari 60 persen atau 259 miliarder baru tahun 2020 datang dari China.

Sehingga sampai saat ini jumlah miliuner China sudah ada 1.058 orang dan menjadi negara yang memiliki jumlah miliuner terbanyak dunia.

Bukan hanya itu, mayoritas miliuner dunia terkonsentrasi di beberapa kota besar China. 6 dari 10 kota dengan miliuner terbanyak adalah kota-kota pusat bisnis di China, terutama terbanyak di Shanghai dan Beijing, Shenzen hingga Hong Kong.

Sementara pesaing beratnya, Amerika Serikat (AS) hanya mengalami penambahan 70 miliuner baru dan berada di posisi kedua sebagai negara dengan jumlah miliuner terbanyak. Jumlahnya saat ini ada 696 orang.

Jika melihat momentum pandemi, maka industri kesehatan dan farmasi merupakan yang paling untung besar.
Riset ini juga menunjukkan bahwa industri perawatan kesehatan menyumbang sekitar 8,7 persen terhadap kekayaan miliuner dunia. Persentase yang sama juga disumbangkan oleh sektor real estat. Kedua sektor ini merupakan mesin utama kekayaan miliarder.

Di samping itu, keberadaan miliuner perempuan juga mengikuti tren peningkatan. Hingga saat ini, terdapat 231 miliuner perempuan, meningkat 51 dari tahun lalu. China mendominasi dengan 69 persen miliuner perempuan datang dari negeri panda ini.

Dalam pemeringkatan Hurun Report tersebut, Indonesia berada di peringkat 16 dengan jumlah miliuner 32 orang, di bawah Thailand dan Singapura. Sementara itu Jakarta berada di peringkat 23 sebagai kota yang memiliki miliuner paling banyak dengan jumlah 24 miliuner.(mrdk.)