Minsel – Salah satu orang tua pasien dari almarhum anak Keyla Maria Pangkey yang baru berusia 5 tahun lebih, warga Tumpaan menyesalkan pelayanan Klinik Balai Keselamatan (BK) Amurang saat menangani anaknya yang dirasakan kurang maksimal alias kurang cepat dan tanggap mendiaknosa penyakit apa yang diderita anak Keyla. Sehingga diduga kematian anaknya hari Senin (01/03/2021) disebabkan penanganan di BK sangat lambat.
Beri Pangkey, ayah dari almarhum anak keyla saat ditemui media hari ini Selasa (09/03/2021)di kediamannya Tumpaan menjelaskan, bahwa selama 4 hari anaknya dibawah ke BK rawat jalan, awalnya pada hari rabu pekan lalu anaknya menderita sakit demam disertai batuk dan hari berikutnya Jumat dibawah kembali ke BK yaitu anak keyla mengalami sakit perut yang disertai ingin muntah, karena belum ada perubahan hari sabtu dibawah kembali lagi untuk dipriksakan, sampai hari minggu anak keyla sempat mengalami kondisi yang sangat drop alias menghawatirkan sehingga keluarga membawah kembali ke BK.
“Melihat kondisi anak saya selain ngedrop juga mengalami kejang-kejang akhirnya dari klinik BK di rujuk ke rumah sakit GMIM Kalooran Amurang, disana (RS GMIM Kalooran -red) anak saya sempat diambil darahnya untuk dipriksa ternyata trombosit anak saya menurun sekali, lalu tindakan RS Kalooran memberikan rujukan ke RSUD Prof Kandouw, dan senin pagi hari anak keyla dibawah ke RSUD Prof Kandouw. Disana sempat ada perawatan namun kehendak Tuhan berbeda, anak keyla dinyatakan meninggal dunia dan hasil diaknosa ternyata anak keyla mengalami Demam Berdarah,”jelas Bery pangkey ayah almarhum anak keyla.
Semntara itu pihak klinik BK saat dikonfirmasi terkait permasalahan ini melalui kepala klinik BK Amurang, Kapten Ayu menjelaskan diruang kerjanya Selasa (09/03/2021),
Bahwa pihaknya membantah kalau penanganan klinik BK tidak maksimal saat menanggani almarhum anak keyla.
“Pihak kami sudah maksimal menangani anak keyla dari hari pertama tepatnya tanggal 24/02/2021 orang tuanya membawah pasien tersebut, keluhan keluarga bahwa anaknya mengalami demam, saat kami priksa suhu badan 37,7 derajat artinya tidak terlalu panas, namun pihak keluarga sempat menginformasikan bahwa anaknya panasnya naik turun dan batuk sudah 4 hari, dari itu maka dokter ambil tindakan agar si pasien diberi obat antibiotik yang dosinya paling tinggi, dan melihat kondisi panas pasien tidak terlalu panas selain itu makan dan minum pasien baik, sehingga di perbolehkan pulang,” ujar kapten ayu
Lanjut disampaikan Kapten ayu, beberapa hari kemudian tepatnya tanggal (27/02/2021) merupakan hari kedua pasien datang kembali dan menyampaikan keluhan bahwa mengalami mual dan muntah, namun panas tidak lagi karena suhu badan pasien menunjukan 36,3 derajat, artinya sakit panas pasien sudah sembuh dengan penanganan hari pertama saat itu diberi antibiotik dosis tinggi, jadi dokter tidak menahan pasien karena tidak mengalami panas yang tinggi dan tidak mengalami dehidrasi, hanya saja diberi obat mual muntah, kemudian hari ketiga tanggal (28/02/2021) pasien datang kembali pada jam kurang lebih 2 siang dengan keluhan diare, sehingga dokter menyarankan untuk meminum obat dengan tambahan obat diare.
” intinya pihak dokter kami menangani pasien ini sesuai prosedur yang ada, dan pihak kami hanya sampai 3 hari menanggani pasien tersebut, kalau ada pertanyaan pihak kami memberika n rujukan kepada keluarga pasien ke rumah sakit lainya itu tidak ada, mungkin saja pihak keluarga saat pulang dari klinik BK itu mungkin inisitif keluarga sendiri,” terang pimpinan klinik BK.(jim)






