Baca Tribun Manado, Wakapolda Sulut Cari dan Kunjungi Rumah Kopi Tertua Tong Fang

MANADO/ Wakapolda Sulut Brigjen Pol Johnny Eddizon Isir mengunjungi rumah kopi Tong Fang atau yang kini disebut Cahaya Timur, Selasa (28/6/2022)
Rumah kopi ini bukan tempat biasa.
Ini adalah rumah kopi tertua di Kota Manado.
Lokasinya berada di Kompleks New Bendar 45 atau yang dulunya disebut Shoping Center.
Berada di samping kanan belakang New Bendar 45, rumah kopi itu terhitung kecil, hanya berukuran lima kali enam meter.
Nuansanya benar benar kuno.
Wakapolda sendiri mengaku tau lokasi rumah kopi ini saat membaca berita di Tribun Manado.
“Jadi pas saya baca koran di Tribun Manado, saya langsung cek lokasinya dan menuju kesini,” ujarnya didampingi Dirlantas Polda Sulut Kombes Pol Robertho Pardede.
Jenderal Bintang satu ini pun memuji rasa dari kopi Tong Fang ini, bahkan berjanji akan menjadi langganan tetap di tempat ini.
“Rasanya benar-benar sangat enak, sehat selalu ya pak, salam kepada keluarga,” jelasnya.
Sementara itu pemilik Rumah Kopi Chenri Anwa berterima kasih dengan kunjungan dari Wakapolda Sulut.
“Terima kasih sudah datang pak Jenderal sudah datang di rumah kopi ini,” jelasnya
Warga tuminting ini pun bercerita, bahwa tempatnya disini sempat dikabarkan akan dibongkar untuk dilakukan perbaikan oleh Pemerintah Kota Manado.
“Kita pasrah saja kalo mau dibongkar, tapi sampai saat ini belum dilakukan,” ujarnya
Setahun, Ko Chen harus membayar tempat sewa tempat ini ke PD Pasar Manado Rp 12.550.000.
Dia pun selalu bekerja keras agar bisa memenuhi pembayaran tersebut.
“Yang penting ada mencari nafkah, meskipun pendapatannya tidak menentu tiap hari,”ujarnya.
Diketahui rumah kopi ini dulunya berada di arah lima – istilah kuno untuk pasar 45 Manado. Kemudian pindah ke Shopping Centre pada tahun 1973 atau dua tahun setelah tempat itu berdiri.
Itulah masa kejayaan rumah kopi itu.
“Dulu rumah kopi hanya ini, kemudian berdiri di Tikala dan Kampung Cina,” katanya.
Ia ingat, rumah kopi ini dulunya buka pukul dua pagi. Langsung diserbu warga begitu dibuka. “Ini dulunya sangat ramai,” kata Ko Chen saat diwawancarai teman teman media, Manado Kamis (6/1/2022).
Ia membeber, nama Tong Fang berubah jadi Cahaya Timur menyusul kebijakan pemerintah orde baru untuk mengganti nama berbau Cina dengan Indonesia.
Sebut dia, Tong Fang dalam bahasa Mandarin berarti Cahaya Timur. “Jadi dinamakan Cahaya Timur,” kata dia.
Di awal tahun 2000 an, bersamaan dengan pesatnya perkembangan Manado, rumah kopi itu mulai tersisih. Rumah kopi menjamur di kota Manado.
Meski demikian rumah kopi ini punya banyak pelanggan fanatik.
“Ada dari ASN, buruh, pensiunan, polisi bahkan pejabat sering kemari,” kata dia.
Ia mengatakan, masih mempertahankan cara membuat kopi seperti yang diajarkan Kong (Opa)nya.
Kopi harus disangrai dan cara memasaknya pakai bara.
Itu pula yang membuatnya enggan pindah ke tempat lain.
“Kalau pindah ke tempat lain, apalagi di mall kan tidak boleh pakai bara. Padahal itu kekuatan utama kopi ini,” kata dia.
Selain kopi susu dan kopi hitam, menu lainnya adalah roti dan aneka kue. Dulu roti ia produksi sendiri.
“Sekarang tidak lagi, saya tak punya alat,” kata dia.
Covid 19 membuat usahanya beroleh kesulitan.
Tapi ia pantang menyerah. Untuk bertahan, ia tak mempekerjakan orang.
Semua dikerjakan sendiri, dari buat kopi, melayani tamu hingga kasir.
Selain bertahan hidup, alasannya terus membuka rumah kopi itu adalah karena warisan leluhur.
“Yang pasti terus saya buka, karena masih banyak yang cinta rumah kopi ini,” katanya.