SULUTLINENEWS.CO.ID, MANADO – Menindaklanjuti penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada November 2022, PLN NP UPDK Minahasa dan BKSDA Sulawesi Utara, melangsungkan penandatanganan kerjasama terkait dengan penguatan fungsi kawasan pengawetan satwa melalui konservasi Maleo dan satwa lainnya di KPHK Tangkoko. 29/03/23.
Penandatanganan dilakukan langsung oleh Manajer PLN UPDK Minahasa Andreas Arthur bersama Kepala BKSDA Sulut Askhari Dg.Masikki.
Diketahui PLN UPDK Minahasa, merupakan unit bisnis pembangkitan milik PLN NP yang berkomitmen mendukung upaya pelestarian lingkungan dan mempertahankan keanekaragaman hayati.
Salah satu dukungan yang dilakukan dalam upaya pelestarian adalah bekerjasama dengan BKSDA Sulawesi Utara dalam Penguatan Fungsi Kawasan Pengawetan Fauna Dalam Rangka Konservasi Maleo Dan Fauna Lainnya Di Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Tangkoko .
Kerjasama dengan BKSDA Sulawesi Utara dalam mendukung pengembalian populasi Maleo di KPHK Tangkoko sudah berjalan sejak tahun 2019.
Bersama Balai BKSDA Sulut pada Tahun Pertama dilakukan pelepasliaran Burung Maleo sebanyak 11 ekor di KPHK .
Selanjutnya pada tahun 2020, dibangun Hatchery Burung Maleo, dengan harapan dapat meningkatkan proses penetasan Burung Maleo di area tersebut.
Pada Tahun 2021, dengan melibatkan masyarakat sekitar KPHK Tangkoko, PLN mendukung dalam patroli dan mengumpulkan telur agar terhindar dari predator alami maupun pemburu liar, sehingga berhasil menetas di hatchery yang telah dibangun. Adapun pada tahun 2022 juga mendukung beberapa program antara lain secara bersama penyiapan personil dilanjutkan dan ditambah program penanaman pakan satwa burung Maleo berupa pohon kemiri, Pakoba, dan Nantu dalam rangka pembinaan habitat dan pada tanggal 30 Maret 2023 PLN UPDK Minahasa kembali melaksanakan perjanjian kerjasama dengan Balai BKSDA Sulut dalam Rencana Pelaksanaan Program (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT).
Manajer PLN UPDK Minahasa Andreas Arthur mengatakan rangkaian program tersebut sebagai program yang telah berhasil memulihkan kondisi habitat sehingga dapat mengembalikan dan mengembangkan keberadaan Populasi Burung Maleo di KPHK Tangkoko.
“Dimana sebelumnya burung Maleo sudah jarang ditemukan di lokasi tersebut.
Hal ini menjadi nilai positif, dengan telah ditemukannya 44 butir burung maleo, 17 telur diantaranya telah menetas selama periode pelaksanaan kerjasama” Kata Andreas.
Andreas menambahkan mendukung program pelestarian Maleo menjadi penting karena keberadaan Burung Maleo dalam ekosistem berperan membantu penyerbukan tanaman, penyebaran biji-bijian, dan pengontrol hama.
“Penyelamatan burung Maleo juga sangat penting karena saat ini termasuk dalam status Critical Endangered berdasarkan International Union for the Conservation of Nature [IUCN]. Pemerintah Indonesia juga memasukan Burung Maleo dalam kategori hewan dilindungi, berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan P.106/2018” Jelas Andreas.
Dengan Kembali pulangnya Burung Maleo, di KPHK Tangkoko, bisa membuat lebih optimis, dalam upaya pelestarian lingkungan dan menjaga keanekaragaman hayati bumi kita. Hal ini juga bisa menjadi warisan untuk anak cucu kita kedepannya dan masa depan.
ADP






