DBD merupakan penyakit Silent killer

Minsel – Diberitakan sebelumnya Bery Pangkey orang tua dari anak balita keyla Maria pangkey usia 5 tahun warga Tumpaan, Kecamatan Tumpaan yang meninggal dunia menderita sakit Demam Berdarah (DB) beberapa pekan lalu, sempat mengatakan bila kematian anaknya diduga karena penanganan medis oleh pihak klinik Balai Keselamatan (BK) Amurang sangat lambat, mengakibatkan anak Keyla meninggal dunia.

Terkait itu pihak dinas Kesehatan Minsel ketika dimintai tanggapan oleh media ini melalui Kepala Dinas (Kadis) menyampaikan, bahwa dirinya tidak ada hak menilai kasus tersebut selain tidak melihat data, itu merupakan komite etik, hanya saja kita bisa melihat SOP dalam penanganan pasien, kalau SOP dijalankan dengan benar maka kita susah untuk menindakinya.

Kadis hanya menghimbau dan menyarankan kepada setiap orang tua yang melihat anaknya jika mengalami panas atau demam selama tiga hari dan kemudian hari ke empat panasnya turun, justru jangan senang, malahan harus hati-hati.

“DBD merupakan penyakit Silent Killer, itu rentan terjadi bagi anak-anak, artinya ketika anak-anak terjangkit DBD, tidak menunjukan kelemahan fisik, justru menunjukan aktivitas yang sangat aktif (lincah-red), bedah halnya orang dewasa atau orang tua kalau terjangkit DBD justru fisik menunjukan penurunan (lemah-red), olehnya segeralah  bawah ke rumah sakit dan memeriksakan darah anak tersebut ke laboratorium, kalau pihak rumah sakit belum menganjurkan maka orang tua harus paksa dokter untuk memeriksakan darah ke laboratorium, supaya tau persis penyakit yang diderita anak tersebut,”ujar kadis erwin schouten.

Selain itu Kadis mengingatkan bahwa dimusim hujan panas perlu waspada penyakit demam berdarah,”apalagi dibulan Februari, Maret justru itu berjalannya penyakit DBD itu sendiri, sehingga tidak heran diawal tahun 2021 ini dari januari hingga maret sudah 10 kasus DBD didapati, dari itu ada 2 orang meninggal dunia yaitu Warga Picuan Baru, Kecamatan Motoling dan termasuk anak Keyla Maria Pangkey warga Tumpaan, kecamatan Tumpaan,”tegas Schouten.

Dengan melihat 10 kasus DBD diawal tahun ini, pihak dinas sudah melakukan himbauan kepada masyarakat dan promosi kesehatan akan bahaya DBD yang saat ini merajalela dan sudah merenggut dua nyawa,” mari lakukan program 3 M plus, mengubur, menguras dan menutup, plusnya mengunakan kelambu dan membersihkan kotoran atau sampah dipinggiran dan di belakang rumah,”urai Schouten. (jim)