Minsel – salah satu petani berasal dari desa Pinasungkulan Utara, Kecamatan Modoinding Fredy Sumanti susah membeli pupuk bersubsidi untuk kebutuhan diladang kebunnya, adapun didapat dipengecer bukan di distributor itupun hanya dijatah 1 karung untuk 1 petani, sedangkan kebutuhan lahannya bukan hanya 1 karung saja melainkan bisa sampai 4 hingga 5 karung pupuk.
Dirinya merasa heran padahal kalau dilihat dipengecer stok pupuk bersubsidi banyak hingga menumpuk digudang mereka. Ini membuat sumanti menduga bahwa dibalik ini semua ada mafia pupuk bersubsidi.
“Memang pupuk merk Ponska bersubsidi harganya selisih lebih murah dibanding pupuk lainnya, di distributor harga subsidi Rp 135 ribu/karung, tapi percuma saja ketika datang untuk membelinya, jawaban pihak distributor mengatakan stok habis, sehingga kami membeli dipihak pengecer tapi harga sudah berbeda, rata-rata Harga Eceran Tertinggi (HET) di pengecer Rp 225 ribu hingga Rp 245 ribu/karung, tetapi herannya lagi dipengecer hanya diperbolehkan membeli tidak lebih 1 karung alias hanya dijatah 1 karung saja untuk 1 petani,” ujar sumanti.
Lanjut dikatannya, sehingga untuk selebihnya pupuk yang dibutuhkan membeli pupuk non subsidi, agar mencukupi kebutuhan pupuk diladangnya walapun harga mahal,” terpaksa saya membeli tambahan pupuk non subsidi sperti merk ‘Verti pos, Pelangi atau merk mutiara, harga pupuk tersebut Rp 300 ribuan keatas hingga mencapai Rp 550 ribu an,”terang Sumanti.
Ditambahkan Sumanti, untuk kelompok tani disini diduga kebanyakan kelompok siluman, pasalnya banyak mengatasnamakan kelompok tani, untuk mendapatkan harga pupuk bersubsidi, tapi didalam keanggotaan kelompok tersebut kebanyakan rekayasa, yakni memalsukan nama-nama petani yang ada tetapi ketika kelompok tersebut mendapat pupuk harga subsidi untuk anggota yang ada, tapi disayangkan oknum didalamnya mungkin ketua kelompok atau yang membuat kelompok abal-abal ini menguasai semua jatah pupuk bersubsidi tersebut,” ya bisa saja pupuk itu dipakai sendiri dan sisanya dijual, inilah salah satu dugaan yang saya maksudkan mafia pupuk bekerja sama dengan pihak oknum yang ada didinas terkait, sehingga petani menderita dan mereka hanya mementingkan pundi-pundi kantong pribadi untuk memperkaya diri sendiri “tambah Sumanti.
Menurut Sumanti sebenarnya dimodoinding bukannya tidak perlu kelompok tani, karena disini (modoinding-red) notabene atau rata-rata petani bukan petani musiman melainkan petani hari-hari,” sedangkan penyuluh saja disini kita tidak pakai, karena kenyataan dilapangan hasil urain dari penyuluh cuma kembali pokok, lebih baik kami praktek sendiri ternyata hasilnya lebih baik dan keuntungan lebih dari setengah, soalnya penyuluh mengajarkan teori secara tingkat umum, tapi dia tidak membaca keadaan, situasi tanah dan cuaca serta lain-lainya,”tandasnya.
Akhirnya sumanti berharap kepada pemerintah, perhatikan pupuk petani dan bubarkan kelompok petani abal-abal,”agar petani lebih sejahtera dan tidak susah, sehingga dengan sendirinya membawah lebih dari perubahan untuk Kabupaten Minsel kedepan dan menjadi contoh bagi daerah-daerah lainya baik sekala Nasional maupun Internasional,”tutup sumanti. (Jim)






