SULUTLINENEWS.CO.ID, MANADO – Kicauan Walikota Andrei Angouw di akun media sosial Pemerintah Kota Manado pada 12 September 2023, menuai kritikan pedas. Bagi masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud, pernyataan yang digelorakan Walikota Manado saat itu merupakan umpatan penghinaan.
Sebagai wujud kekecewaan dari tutur kata Walikota, mantan aktivis Reformasi 1998 Jim Robert Tindi melaporkan Walikota Manado Andrei Angouw ke Polda Sulut. Laporan tersebut dilayangkan, Kamis 14 September 2023.
“Untuk saudara-saudara saya di Talaud, saya melaporkan Walikota Manado Andrei Angouw ke Polda Sulut, karena apa yang diucapkan Andrei Angouw adalah bentuk penghinaan kepada orang Talaud,” kata Tindi, Jumat (15/9/2023).
Laporan tersebut dia layangkan, karena menurutnya tidak seharusnya seorang Walikota melontarkan kalimat yang merendahkan derajat dan harga diri orang Talaud.
“Kami orang Talaud punya harga diri. Jangan samakan kami dengan uang dan badut hanya karena ingin memberitahukan keberhasilan yang semu,” tuturnya.
Lanjutnya, jika Walikota Manado ingin keberhasilan semunya diketahui banyak orang, sangat tidak elok jika membandingkan Manado dengan Kabupaten Kepulauan Talaud.
“Head to head atau Apple to applenya bukan dengan Talaud, tidak sebanding itu. Pola pikir yang sangat tidak cerdas dengan mengeluarkan pernyataan seperti itu,” ketusnya.
Dalam laporan yang dilayangkan di Polda Sulut, Tindi mengatakan bahwa Walikota Manado tidak membaca laporan Badan Statistik bahwa tingkat kemiskinan di Talaud pada tahun 2022 berada di angka 7,72 persen, sedangkan di Kota Manado mencapai 25,38 persen.
“Sementara itu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Talaud tahun 2022 sebesar 70,43 persen, sedangkan Manado 79,66 persen. Talaud masih di atas dibanding beberapa daerah lainnya di Sulut,” jelas mantan Ketua DPRD Sulut ini.
Walikota kata dia, mengukur kemiskinan suatu daerah PDRB per kapita. Dia mungkin lupa atau tidak tahu tentang definisi PDRB per kapita.
“Jadi kenapa Manado PDRB per kapitanya tinggi, karena ditopang oleh investasi swasta yang tinggi. Sementara Talaud rendah karena kurangnya sektor swasta dalam menopang perekonomian suatu daerah,” tandasnya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Barisan Pemuda Nusantara (Bapera) Talaud dan Aliansi Pemuda Porodisa Defit N Bee, S.Si meminta Walikota Andrei Angouw untuk menarik kata-katanya dan meminta maaf secara terbuka.
“Dia (Walikota) menyebut seolah-olah warga Kabupaten Kepulauan Talaud sangat rendah dan miskin. Pak Walikota anda bukan orang Talaud. Anda tidak tahu betul mengenai kondisi kami rakyat Talaud. Jadi jangan sembrono menyebut dan menghina kami,” kata Defit N Bee, S.Si.
“Kami mengecam keras diskriminasi yang dilakukan Walikota Andrei Angouw. Kami meminta Walikota mencabut kata-katanya yang bagi kami menghina suku dan masyarakat Talaud. Kami juga minta Walikota meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Kabupaten Kepulauan Talaud,” sebut Defit.
Diketahui, dalam video berdurasi 1 menit 23 detik yang diunggah akun media sosial Pemerintah Kota Manado, Walikota Andrei Angouw mengatakan, ‘Nda usah jao-jao yang ibu/bapa ja lia di jalan-jalan badut-badut itu bukan orang Manado, itu orang yang datang dari luar Kota Manado. Dorang datang ke sini karena menjanjikan. Dorang nyanda babadut di Talaud, nyanda mo dapa doi dorang di sana’.
Kutipan Koran Manado
***






